Purwakarta Destinasi Liburan Akhir Tahun Rakarizi

Purwakarta Destinasi Liburan Akhir Tahun Rakarizi

Tahun ini ingin mengajak Enin dan Abah jalan-jalan ke Purwakarta setelah tahun 2016 lalu kita jalan-jalan ke Batu Malang. Tahun ini agak deket dari Bogor karena disesuaikan dengan keadaan hehehe. OK langsung aja ikutin cerita liburan Rakarizi di “Purwakarta destinasi liburan akhir tahun Rakarizi“.

Sebetulnya tak berniat lama-lama di Purwakarta oleh karena itu Rakarizi tidak membuat itenerary. Cuma 3 tempat yang ingin Rakarizi saat itu yaitu Istora Jatiluhur, Sate Maranggi Haji Yetty dan mencari rumah keponakan Enin.

Purwakarta Destinasi Liburan akhir tahun rakarizi

Bergaya dengan latar belakang Waduk Jatiluhur


Perjalanan Menuju Purwakarta

Perjalanan dimulai hari minggu pagi jam 05.00 untuk menghindari kemacetan di tol Cikampek. Berhubung masih amatir bapak menggunakan bantuan GPS sebagai penunjuk arah. Pada mulanya perjalanan berjalan lancar tanpa tersentuh kemacetan tetapi ketika masuk tol Cikampek kami diarahkan keluar dari tol menuju Jati Asih. Alhasil kami keluar masuk tol di sekitar Jati Asih dan masuk kembali ke Tol Cikampek dalam keadaan sudah macet. Pelajaran yang bisa kita ambil jangan terlalu nurut sama GPS kalo kita merasa jalan yang kita tempuh sudah benar. Setelah mengalami kemacetan sekitar 30 menit dari Jati Asih sampai Cikarang Utama akhirnya kita sampai di Purwakarta Jam 09.00.

Istora Jatiluhur

Tak jauh dari pintu tol Jatiluhur Purwakarta kita menemukan kawasan wisata Jatiluhur. Jatiluhur merupakan salah satu bendungan (Waduk) terbesar di Indonesia yang dibangun mulai tahun 1957 dan diresmikan tahun 1967. Waduk Jatiluhur merupakan waduk serbaguna yang digunakan sebagai PLTA dan pengairan sawah serta untuk pariwisata.

Tiket masuk ke kawasan wisata Jatiluhur adalah Rp. 15.000/orang dan Rp. 20.000 untuk tiket masuk mobil. Sedangkan Istora Resort adalah sebuah rumah makan dan hotel di kawasan wisata Jatiluhur dengan demikian dikenakan bea masuk lagi per orang Rp. 10.000. Istora Resort menyediakan berbagai spot foto yang cantik dan menarik sehingga Anda dapat puas berfoto ria disana. Ada yang berlatar belakang waduk Jatiluhur dan tampak dari kejauhan Gunung Parang dan Gunung Bongkok. Ada yang berlatar belakang turbin waduk jatiluhur ada tangga yang naik keatas pohon. Pokoknya persiapan HP atau Kamera Anda dan cari angle foto terbaik sehingga hasil jepretan Anda akan maksimal.

Kebahagiaan Enin dan Abah di Istora Resort Jatiluhur


Sate Maranggi Haji Yetty

Angka jarum jam belum menunjukkan jam 11 tepat tapi Rakarizi sudah lapar dan ingin segera makan Sate Maranggi. Tentang Sate Maranggi Haji Yetty, Rakarizi bahas dalam postingan khusus ini ya. Kenapa dibahas khusus karena keluarga Rakarizi merupakan penggemar sate ini dan seakan-akan Sate Maranggi Haji Yetty merupakan Warung Sate terbesar di dunia.

Salah memilih Hotel

Seperti diceritakan sebelumnya bahwa kami tidak berniat menginap di Purwakarta. Tapi ternyata mama sudah membooking hotel secara dadakan ketika perjalanan menuju sate maranggi dengan alasan takut Bapak capek kalo pulang langsung. Eh ternyata eh ternyata namanya dadakan dalam booking hotel itu merupakan suatu kesalahan karena hotel-hotel sudah full book jadilah kita dapat hotel sisa. Hotel ini tidak akan Rakarizi bahas disini apalagi dalam review hotel karena terlalu banyak kekurangannya. Pokoknya pesan dari Rakarizi jangan pesan hotel dadakan ya temen-temen.

Situ Buleud ( Taman Air Mancur Sri Baduga )

Pada awalnya ketika memutuskan untuk menginap di Purwakarta ingin menonton pertujukan air mancur di Taman Air Mancur Sri Baduga. Tapi berhubung kami menginap dihari minggu dan pertunjukan hanya diadakan hari sabtu jadinya Rakarizi cuma bisa gigit jari deh hehehe. Daripada tidak menikmati sama sekali jadinya Rakarizi jalan-jalan sore aja di Situ Buleud.

Area dalam dan luar Situ Buleud


Situ Buleud adalah situ yang berada ditengah kota Purwakarta dengan luas 4 Ha. Situ Buleud makin terkenal karena ditata dan dikelola dengan baik oleh pemerintahnya. Apalagi ketika Situ Buleud dijadikan Taman Air Mancur Sri Baduga wehhh tambah banyaklah wisatawan datang ketempat ini. Semoga Situ-situ dikota Bogor juga dapat dikelola dan dipercantik seperti di Purwakarta. Jalan-jalan sore di Situ Buleud menyenangkan juga ternyata selain ada joging track yang mengelilingi situ Anda juga dapat memberi makan ikan yang sangat banyak di situ. Rakarizi sangat senang kasih makan ikan karena ikannya pada semangat untuk berebut makanan hehehe.

Situ Buleud bukan hanya bagus diarea dalam diarea luar juga bagus karena dikelilingi pagar tinggi yang indah. Di pertigaan Jl. Siliwangi dengan Jl. Ganda Negara ada monumen patung badak dengan latar belakang seorang pria berkuda yang cukup besar. Monument badak dan pria berkuda dihiasi lampu cantik sehingga banyak para wisatawan menjadikan spot foto dari sore hingga malam hari.

Keindahan Purwakarta semakin dipercantik oleh keramahan warganya. Ketika kami berjalan-jalan sore kami mendapatkan info dari warga sekitar bahwa ada situ lagi di daerah Wanayasa. Ok ini akan jadi destinasi liburan Rakarizi berikutnya di Purwakarta.

Situ Wanayasa

Situ Wanayasa

Situ Wanayasa yang memiliki pulau ditengah situ


Pagi hari setelah sarapan kami langsung menuju Situ Wanayasa yang kata penduduk sekitar dekat. Situ Wanayasa menjadi tujuan dadakan pertama kami dalam Purwakarta Destinasi Liburan kahir tahun Rakarizi. Kami gunakan lagi GPS menuju Situ Wanayasa agar tidak tersasar. Wakwaw hehehe ternyata GPS menunjukkan jarak 25 KM hehehe mungkin menurut orang sini jarak 25 KM itu dekat.

Tak patah semangat Rakarizi tetap melanjutkan perjalanan menuju Situ Wanayasa yang menanjak karena sepertinya kami melewati pegunungan. Objek wisata Giri Tirta telah kami lewati Situ Wanayasa tetap belum nampak. Setelah lebih dari 30 menit akhirnya kami sampai juga di Purwakarta.

Situ Wanayasa terletak di Kabupaten Purwakarta dengan luas Situ sekitar 7 Ha. Situ Wanayasa sangat indah dimana ditengahnya terdapat pulau kecil dan berlatar belakang Gunung Burangrang. Situ Wanayasa berada di ketinggian 600 MDPL sehingga udaranya lumayan sejuk. Situ Wanayasa juga dikelola dengan baik dan pedagang disekitar situ menjajakan dagangannya dengan harga normal tanpa dilebih-lebihkan. Ini yang Rakarizi suka dari Purwakarta Pemerintah dan Masyarakat sama-sama sadar wisata menjadikan Purwakarta iiiistimewa.

Ketika dalam perjalanan ke Situ Wanayasa kami melewati Kampung Panenjoan dan mamapun berkata target berikutnya itu.

Bukit Panenjoan

Puas menikmati Situ Wanayasa mamapun langsung menggunakan GPSnya menuju Bukit Panenjoan. Ternyata eh ternyata Kampung Panenjoan yang kita lewati ketika dalam perjalanan menuju Situ Wanayasa bukanlah Bukit Panenjoan yang kita maksud. Bukit Panenjoan letaknya masih jauh sekitar 9.3 KM. Adapun alamatnya ada di Kampung Cinangka, Desa Sindang Panon Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta.

Harga tiket masuk BUkit Panenjoan hanya Rp. 5.000 per orang sedangkan untuk parkir mobil Rp. 10.000 langsung bayar ditempat. Jarak dari loket tiket ke objek wisatanya sekitar 1 KM. Sebelum sampai ke Bukit Panenjoan kita akan melewati perkebunan teh dan warung-warung makanan dimana mereka akan menjajakan makanannya dengan ramah.

Bukit Panenjoan artinya bukit untuk melihat. karena diatas bukit ini kita dapat melihat hamparan keindahan Purwakarta dilatar belakangi Gunung Sangga Buana. Bukit Panenjoan berupa jembatan kayu unik yang dibangun diatas perkebunan teh yang dikelola oleh PT. Kartini Wana Raya. Diatas jembatan kayu tersebut dibangun spot-spot foto yang menarik berlatar belakang ketinggian yang berbalut keindahan. Abah Enin sangat berani sekali menikmati spot-spot foto yang ada sedangkan kami bertiga yang lebih muda malah agak takut hehehe… jadi malu.

Cuma satu yang sangat disayangkan dari objek wisata ini yaitu toilet tak terurus sehingga kotor. Mudah-mudahan pengelola segera menyadari akan hal ini. Dari Bukit Panenjoan menuju Purwakarta kami memilih jalur lain tidak melewati Wanayasa dengan harapan jalannya tidak se ekstrim lewat sana. Dan pilihan kami tepat hehehe.

ini Kami di Bukit Panenjoan


Purwakarta menuju Bogor

Perjalanan pulang kami ke Bogor sangat lancar. Ketika kami sampai di Jati Asih kami diarahkan kembali oleh GPS untuk keluar tol menuju Jati Asih. Kami tidak mengikuti saran itu dan tetap malanjutkan menuju Cawang dan keputusan kami benar lagi, alhamdulillah perjalanannya benar-benar lancar sampai di Bogor. Itulah cerita Purwakarta destinasi liburan akhir tahun Rakarizi semoga Purwakarta bisa mengembangkan pariwisatanya lebih baik lagi.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *